Tag: pertamina

  • Dari Kandang & Pasar, Warga Kutawaru Binaan Kilang Cilacap Nyalakan Energi Kemandirian

    Dari Kandang & Pasar, Warga Kutawaru Binaan Kilang Cilacap Nyalakan Energi Kemandirian

    satyanusa, Cilacap — Dari kandang puyuh dan pasar, harapan kemandirian energi tumbuh di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap aktif mendorong masyarakat untuk melihat potensi sekitar, termasuk mengubah limbah yang selama ini dipandang sebagai persoalan menjadi sumber daya yang bernilai.

    Semangat ini diwujudkan melalui pelatihan pengelolaan biogas yang menjadi bagian dari program Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU), Jumat (14/8/2026). Sebanyak 14 warga dari kelompok Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) mengikuti pelatihan mengolah limbah organik menjadi sumber energi alternatif, biogas.

    Pelatihan menghadirkan instruktur dari Politeknik Negeri Cilacap (PNC), Rosita Dwityaningsih, dosen sekaligus Koordinator Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengumpulan dan pemanfaatan limbah kotoran ternak puyuh serta sampah organik dari pasar sebagai bahan baku biogas.

    Tidak berhenti pada teori, peserta juga diperkenalkan dengan teknik pengoperasian dan pengelolaan mesin biogas agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.

    Bagi warga Kutawaru, pengetahuan ini bukan hanya sebagai keterampilan baru namun juga menjadi langkah membangun kemampuan Masyarakat, menyelesaikan persoalan dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sendiri.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan program tersebut menjadi bukti konsistensi mengembangkan potensi masyarakat Kutawaru secara berkelanjutan.

    “Di antaranya melalui budidaya ternak puyuh oleh kelompok P4S serta pengembangan Pasar Amarta. Aktivitas ini menghasilkan limbah organik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan,” jelasnya.

    Menurut Agus, kondisi geografis Kutawaru turut menjadi tantangan bagi Masyarakat, mengingat Lokasi kelurahan terpisah dari pusat pemerintahan Kota Cilacap oleh perairan Bengawan Donan. Kondisi ini membuat warga menghadapi keterbatasan akses terhadap sejumlah kebutuhan dasar, termasuk pengelolaan dan pembuangan limbah, khususnya organik.

    “Maka, dibutuhkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga bisa bekal bagi masyarakat menghadapi tantangan di masa depan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas menjadi salah satu ikhtiar mengurangi timbulan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang dapat dikelola masyarakat,” imbuh Agus.

    Pelatihan biogas ini menjadi dukungan komitmen Kilang Cilacap dalam mendorong terwujudnya Desa Energi Berdikari (DEB). Hal ini juga selaras dengan program Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS), sebuah inisiatif RU Cilacap dalam rangkaian Bulan Energi & Loss 2026, melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat.

    Melalui capacity building, Pertamina berharap masyarakat Kutawaru semakin percaya diri dalam mengelola potensi lokal. Limbah dari kandang puyuh maupun aktivitas pasar yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan, perlahan dapat dipandang sebagai bahan baku yang memiliki nilai guna.

    Program tersebut juga turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 2 (Tanpa Kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 7 (Energi Bersih & Terjangkau), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDGs 15 (Ekosistem Daratan).

  • 50 Tahun Kilang I Pertamina Patra Niaga RU Cilacap: Menjaga Nyala Energi, Menguatkan Doa, dan Berbagi pada Sesama

    50 Tahun Kilang I Pertamina Patra Niaga RU Cilacap: Menjaga Nyala Energi, Menguatkan Doa, dan Berbagi pada Sesama

    satyanusa, Cilacap — Lima puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang tentang ketekunan, pengabdian, dan ribuan tangan yang pernah bekerja untuk menjaga nyala energi negeri.

    Bagi Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap, setengah abad perjalanan Kilang I menjadi momentum untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengucap syukur.

    Suasana khidmat terasa di area Control Room Fuel Oil Complex (FOC) I, Senin sore (24/8/2026). Di tempat yang menjadi salah satu pusat kendali operasi, Perwira Pertamina berkumpul memperingati HUT ke-50 Kilang I -sebuah unit yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang RU Cilacap.

    Pjs. Group Head of Operation & Manufacturing (GHOM) RU Cilacap, Erdyanto Perkasa, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan tasyakuran ini.

    Menurutnya, di balik kecanggihan teknologi dan ketangguhan sistem operasi kilang, selalu ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni kekuatan doa dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

    “Sehebat dan secanggih apa pun teknologi, ada kekuatan yang lebih besar dari semuanya. Kekuatan doa dan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tidak boleh disepelekan. Karena pada akhirnya, kita harus senantiasa yakin dan percaya bahwa kekuasaan Tuhan berada di atas segalanya,” ujar Erdyanto.

    Perjalanan Kilang I berawal dari pembangunan pada 1974. Dua tahun kemudian, tepatnya 24 Agustus 1976, unit ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Tanggal tersebut kemudian menjadi tonggak peringatan HUT FOC I atau Kilang I.

    Awalnya, Kilang I memiliki kapasitas 100 ribu barel/ hari. Kompleks ini terdiri atas Fuel Oil Complex (FOC) I, Lube Oil Complex (LOC) I, dan Utilities, yang dirancang untuk mengolah minyak mentah dari Timur Tengah menjadi berbagai produk energi.

    Tidak hanya bahan bakar minyak (BBM), kilang juga dirancang menghasilkan produk non-BBM, termasuk Lube Base Oil sebagai bahan dasar minyak pelumas serta aspal.

    Perjalanan itu terus berkembang. Melalui Debottlenecking Project pada awal 1996, kapasitas FOC I meningkat menjadi 118.000 barel per hari.

    Seiring waktu, inovasi dan pengembangan terus dilakukan. Hadirnya Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC) memperkuat kemampuan kilang dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi, termasuk Pertamax Turbo yang memenuhi standar Euro 4.

    Lima puluh tahun kemudian, semangat untuk terus bertumbuh tidak berhenti. RU Cilacap kini juga mengambil bagian dalam perjalanan menuju energi yang lebih hijau melalui pengembangan produk energi hijau, termasuk Green Diesel dan Green Avtur.

    Peringatan 50 tahun Kilang I sore itu tidak berhenti pada rasa syukur. Di tengah peringatan perjalanan panjang, para Perwira Pertamina juga menyalurkan donasi kepada Panti Asuhan Khoiru Ummah, Cilacap.

    Langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa keberadaan kilang tidak pernah terpisahkan dari masyarakat.

    Acara dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan Ustaz Yasri Ofrizal. Pesan-pesan penguat ruhani menjadi refleksi bagi para Perwira, mengingatkan kembali pentingnya menjaga keseimbangan antara profesionalisme, ikhtiar, dan ketundukan kepada Tuhan.

    Rangkaian tasyakuran ditutup dengan pemotongan tumpeng, sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus doa untuk langkah-langkah yang akan datang.

    Di usia emasnya, Kilang I konsisten menjaga nyala energi negeri, menguatkan doa dan terus berbagi untuk sesama.

  • Pertamina Kilang Cilacap Raih Gold Medal di Ajang Inovasi Internasional IEI 2026 Guangzhou

    Pertamina Kilang Cilacap Raih Gold Medal di Ajang Inovasi Internasional IEI 2026 Guangzhou

    satyanusa, Guangzhou, China — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan perwira Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap di kancah internasional.

    Pada ajang The 12th International Exhibition of Invention (IEI) yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di Guangzhou, China, gugus inovasi Pertamix berhasil meraih Gold Medal.

    Penghargaan diberikan atas inovasi “Enhancing Treated Water Supply Security and Supporting Sustainable CO₂ Emission Reduction Through the Replication of an Engineered Mobile Reverse Osmosis (RO) System Configuration”.

    Tak hanya itu, inovasi gugus Pertamix juga memperoleh penghargaan khusus ARCA Medal dari Croatian Union of Innovators, sebagai pengakuan tambahan atas inovasi yang dinilai memiliki keunggulan dan potensi implementasi.

    Tim gugus Pertamix beranggotakan Ipuk Suseno Budi Wiworo (Engineering & Development), Dexter Musa Siahaan (Engineering & Development), Ghifari Nurachmad (Production III), Adif Alfianto (Production III), dan Eko Prasetyo (Maintenance Execution I).

    Pendamping saat Forum Internasional, Muhamad Hasan Ismail menerangkan ajang IEI 2026 merupakan forum internasional yang mempertemukan inovator, peneliti, pelaku industri, serta institusi dari berbagai negara untuk menampilkan karya dan teknologi inovatif.

    “Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangkaian Belt & Road and BRICS Competition of Skills Development and Technology Innovation,” urai Hasan yang juga Manager Human Capital (HC) RU Cilacap.

    Keberhasilan gugus Pertamix di Guangzhou menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan operasional Kilang Cilacap mampu bersaing dan mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

    Fasilitator gugus Pertamix, Ipuk Suseno Budi Wiworo menambahkan inovasi yang diusung berfokus pada peningkatan keamanan dan keandalan pasokan treated water sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi CO₂ secara berkelanjutan melalui replikasi konfigurasi sistem Mobile Reverse Osmosis (RO) yang telah direkayasa.

    “Teknologi ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan pengolahan air, sekaligus menjadi bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan keberlanjutan operasional kilang,” jelas Ipuk.

    Dengan pendekatan inovatif tersebut, lanjut Ipuk, gugus Pertamix tidak hanya menjawab kebutuhan operasional, tetapi juga menghadirkan solusi yang selaras dengan prinsip environmental sustainability, efisiensi sumber daya, dan pengurangan jejak karbon.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan menambahkan perolehan Gold Medal dan ARCA Medal menjadi pencapaian penting bagi Pertamina Patra Niaga RU Cilacap. “Hal ini sekaligus menunjukkan konsistensi perusahaan dalam mendorong budaya inovasi di lingkungan kerja,” imbuhnya

  • Kilang Cilacap Berikan Pelatihan Diversifikasi Puyuh, Dukung Ketahanan Pangan & Kemandirian Ekonomi Perempuan Kutawaru

    Kilang Cilacap Berikan Pelatihan Diversifikasi Puyuh, Dukung Ketahanan Pangan & Kemandirian Ekonomi Perempuan Kutawaru

    satyanusa, Cilacap — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap melalui Program TJSL Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU).

    Salah satunya dengan memberikan Pelatihan Diversifikasi Produk Puyuh menjadi Produk Bernilai Ekonomi, di Kelurahan Kutawaru, Cilacap Tengah, Jumat (14/8/2026).

    Acara ini merupakan program turunan MAMAKU, khususnya pengembangan kegiatan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Sebanyak 11 anggota kelompok perempuan yang merupakan eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengikuti pelatihan ini.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan menyebutkan selain meningkatkan kapasitas masyarakat, kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal. “Hasil budidaya puyuh yang selama ini berupa telur dan daging tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi produk olahan yang lebih beragam,” ujarnya.

    Diversifikasi tersebut memungkinkan bahan pangan lokal memiliki masa pemanfaatan yang lebih luas sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

    Pengembangan diversifikasi produk puyuh menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

    “Ketersediaan bahan pangan yang diproduksi sendiri, disertai kemampuan mengolah dan mengembangkan produk, dapat memperkuat kapasitas masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk dari luar wilayah,” imbuh Agustiawan.

    Di sisi lain, pengolahan hasil puyuh menjadi produk bernilai jual membuka peluang terbentuknya rantai nilai ekonomi baru, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.

    “Bagi kelompok perempuan eks PMI, keterampilan tersebut diharapkan menjadi modal mengembangkan usaha produktif dan meningkatkan pendapatan keluarga,” tambahnya.

    Dalam kesempatan itu, Officer CSR & SMEPP Kilang Cilacap, Lifania Riski Nugrahani menyerahkan bantuan perlengkapan memasak untuk mendukung kegiatan pengolahan produk dan pengembangan usaha kelompok.

    Sesi pelatihan menghadirkan Dosen Program Studi Produk Agroindustri Politeknik Negeri Cilacap, Mardiyana sebagai instruktur. Peserta mendapatkan pembekalan tentang pemanfaatan produk turunan puyuh, khususnya daging dan telur, untuk diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

    Peserta mendapatkan pemaparan mengenai diversifikasi produk, pengenalan bahan, serta prinsip dasar pengolahan pangan. Selanjutnya, peserta melakukan penimbangan bahan dan penentuan komposisi, sebelum praktik langsung proses pengolahan hingga pemasakan dimsum berbahan dasar produk turunan puyuh.

    Pemilihan dimsum menjadi salah satu bentuk diversifikasi dilakukan untuk memberikan alternatif produk olahan yang dapat dikembangkan dan dipasarkan oleh kelompok.

    Dengan mengolah bahan pangan lokal menjadi produk siap konsumsi, masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.

    Melalui kegiatan ini, Program MAMAKU berupaya mengintegrasikan aspek ketahanan pangan, peningkatan keterampilan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi lokal.

  • Di balik Lancarnya Operasional, Kilang Cilacap Kawal Harmoni Hubungan Industrial

    Di balik Lancarnya Operasional, Kilang Cilacap Kawal Harmoni Hubungan Industrial

    satyanusa, Cilacap – Di balik operasional kilang yang berjalan selama 24 jam, ada ribuan pekerja dengan beragam peran yang memastikan energi tetap mengalir untuk masyarakat. Menyadari bahwa keberlangsungan operasi juga ditentukan oleh hubungan kerja yang sehat dan terlindungi, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap memperkuat komitmen kepatuhan hukum ketenagakerjaan, termasuk dalam pengelolaan tenaga alih daya atau TAD.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop & Upskilling Kepatuhan Aspek Ketenagakerjaan pada Pengelolaan Alih Daya di Lingkungan Pertamina Group Tahun 2026 yang digelar selama dua hari, 18–19 Agustus 2026 di Astonn In Cilacap, sebagai ruang pemahaman regulasi sekaligus penguatan tata kelola dan pengawasan.

    Kegiatan ini diikuti pekerja Pertamina Group, pimpinan dan manajemen perusahaan alih daya, serta menghadirkan narasumber dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Cilacap, Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industrial dari Pengadilan Negeri Semarang, serta kalangan akademisi, praktisi hukum ketenagakerjaan dan HSSE.

    Pjs. Group Head of Operation & Manufacturing (GHOM) RU Cilacap, Erdyanto Perkasa menyampaikan penguatan kepatuhan menjadi semakin penting mengingat RU Cilacap merupakan rumah bagi sekitar 1.530 pekerja organik, 746 tenaga alih daya mandays, serta kurang lebih 4.000 personel kontraktor temporer.

    “Dengan skala operasional dan jumlah tenaga kerja yang besar, pengelolaan ketenagakerjaan dan alih daya yang tertib, terawasi, serta patuh terhadap ketentuan menjadi sangat penting untuk menjaga kelancaran operasi sekaligus hubungan industrial yang harmonis,” ujarnya.

    Sejalan dengan hal tersebut, Akademisi Hukum Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Hernawan, yang membawakan materi ‘Membangun Fondasi Kepatuhan Regulasi yang Kuat dalam Pengelolaan Alih Daya dalam Mewujudkan Hubungan Industrial yang Produktif dan Berkelanjutan’, menekankan pentingnya kemampuan perusahaan beradaptasi terhadap dinamika regulasi ketenagakerjaan.

    “Fondasi kepatuhan yang kuat perlu dibangun melalui pemahaman regulasi yang utuh, penerapan yang konsisten, serta pengawasan yang efektif agar pengelolaan alih daya tidak hanya memenuhi aspek hukum, tetapi juga mampu mendukung hubungan industrial yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Ari.

    Antusiasme peserta turut terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama para narasumber, dengan beragam pertanyaan seputar implementasi regulasi, pengawasan, hingga tantangan pengelolaan tenaga alih daya di lingkungan kerja.

    Dari perspektif mitra Perusahaan Alih Daya, Ruseno, menyebut forum tersebut relevan dengan kebutuhan di lapangan. “Workshop ini menjadi ruang bagi kami untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas pengelolaan tenaga alih daya, sekaligus memperkuat koordinasi agar kepatuhan dan hubungan industrial yang harmonis dapat dijaga bersama,” ungkapnya.

    RU Cilacap secara berkelanjutan menyelaraskan praktik pengelolaan ketenagakerjaan dengan perkembangan regulasi, termasuk UU Cipta Kerja, PP 35/2021, PP 36/2021, serta ketentuan ketenagakerjaan terbaru yang relevan.

    Melalui perspektif regulator, praktisi peradilan hubungan industrial, akademisi, konsultan hukum, dan penyedia jasa, workshop ini diharapkan menghasilkan pemahaman yang semakin komprehensif sekaligus langkah perbaikan konkret dalam pengawasan, penanganan keluhan, dan pencegahan potensi perselisihan hubungan industrial.

    Bagi Kilang Cilacap, kepatuhan ketenagakerjaan bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, tetapi menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan keandalan operasi kilang.

    Melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, RU Cilacap berkomitmen terus membangun ekosistem pengelolaan alih daya yang taat regulasi, transparan, dan bertanggung jawab guna mewujudkan hubungan industrial yang produktif, harmonis, dan berkelanjutan.

  • Pertamina Kilang Cilacap Dorong Pemanfaatan Energi Bersih & Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan

    Pertamina Kilang Cilacap Dorong Pemanfaatan Energi Bersih & Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan

    satyanusa, Cilacap — Komitmen Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam mendorong pemanfaatan energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat terus diperkuat melalui berbagai program berbasis energi baru terbarukan (EBT).

    Hal itu disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, pada kuliah umum Dies Natalis ke-3 Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan Politeknik Negeri Cilacap (PNC) di kampus tersebut, Selasa (11/8/2026).

    Agustiawan menyampaikan pengembangan energi bersih tidak hanya terkait energi alternatif, tetapi juga dapat menjadi penggerak pemberdayaan, penguatan ekonomi lokal, serta upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Dikatakan, salah satu pendekatan dalam EBT ini adalah pemanfaatan potensi energi surya di Jawa Tengah. Tercatat 12 lokasi potensial pengembangan PLTS dengan karakteristik lahan dan aksesibilitas yang mendukung, salah satunya wilayah Cilacap dengan potensi yang cukup tinggi.

    Dicontohkan implementasi pemberdayaan EBT di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap berupa program Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN). Ini adalah unggulan TJSL pemberdayaan petani dan pelaku UKM pertanian melalui pendekatan holistik dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

    “Tercatat 233 orang penerima manfaat, terdiri dari petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak dan masyarakat miskin. EBT mendukung aktivitas pertanian, seperti irigasi PLTS, irigasi energi hybrid, inovasi penyemprot pestisida, hortikultura dan irigasi tetes berbasis EBT, hingga integrasi sistem pertanian dari hulu ke hilir,” ungkapnya.

    Pada kolaborasi EBT Program Kalijaran MAPAN, total daya mencapai 17.540 Wp yang berkontribusi positif pada aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan well-being.

    “Di sisi lingkungan program ini juga mencatat pengelolaan 660 kg limbah pertanian dan rata-rata debit air sebesar 150.000 liter per hari,” tegasnya.

    Di sisi ekonomi, program menghasilkan pendapatan padi Rp220,35 juta per panen per kelompok, pendapatan diversifikasi produk Rp5,335 juta per bulan, serta hasil panen hortikultura dan perikanan Rp7,15 juta. Selain itu, tercatat penghematan penggunaan pompa diesel, Rp4,5 juta.

    Agustiawan juga menyoroti pemanfaatan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF). “Pengolahan UCO menjadi SAF dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca hingga 80 persen dibandingkan pengolahan kerosene menjadi avtur,” imbuhnya.

    Koordinator Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan PNC, Radhi Ariawan menyambut baik kontribusi Kilang Cilacap dalam pengembangan EBT. “Implementasi energi bersih dari dunia industri ini penting menambah pemahaman dan pengetahuan mahasiswa, terkait pemanfaatan energi terbarukan secara nyata di masyarakat,” ujarnya.

    Antusiasme juga disampaikan mahasiswa PNC, Alika, yang menilai pemaparan langsung dari perusahaan menjadi tambahan ilmu dan motivasi mahasiswa untuk tak henti belajar dan berinovasi. “Terimakasih Pertamina, materi ini menjadi bekal ilmu yang sangat bermanfaat,” kata Alika.

    Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap terus mendorong pemanfaatan EBT tidak hanya sebagai solusi energi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

  • MAMAKU SIGAP Antar Kilang Cilacap Raih Penghargaan Platinum ISRA 2026

    MAMAKU SIGAP Antar Kilang Cilacap Raih Penghargaan Platinum ISRA 2026

    satyanusa, Solo – Komitmen Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional.

    Kilang Cilacap berhasil meraih penghargaan Platinum pada ajang Indonesia Social Responsibility Awards (ISRA) 2026 untuk kategori video dokumentasi program Masyarakat Mandiri Kutawaru – Sistem Integrasi Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir (MAMAKU SIGAP).

    Penghargaan tersebut diterima oleh Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, pada malam penganugerahan ISRA 2026 yang berlangsung di Solo, Kamis malam (6/8/2026).

    ISRA 2026 merupakan ajang apresiasi dan forum kolaborasi nasional yang diselenggarakan oleh Prospectus untuk memperkuat praktik keberlanjutan serta implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti konsistensi Kilang Cilacap menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus lingkungan.

    “Penghargaan ini kembali meneguhkan posisi Kilang Cilacap yang konsisten mengembangkan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional. Melalui MAMAKU SIGAP, kami berupaya menghadirkan inovasi sosial yang tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan,” ujar Agustiawan.

    Ia menjelaskan, MAMAKU SIGAP merupakan inovasi sosial berbasis masyarakat yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

    Keberhasilan program ini tercermin dari tumbuhnya berbagai unit usaha berbasis multiple commodities dan multiple income dengan total omzet mencapai Rp366 juta per bulan. “Selain itu, lebih dari 1.500 rumah tangga terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan di kawasan pesisir Kutawaru,” kata Agustiawan.

    Dari sisi keberlanjutan lingkungan, MAMAKU SIGAP mencatat berbagai capaian signifikan, di antaranya pengelolaan 7,6 ton sampah per tahun, penanaman mangrove seluas 8,5 hektare, pengembangan lebih dari 78 ribu bibit mangrove baik wellbag maupun non-wellbag, pengurangan emisi 5,46 ton CO2eq per tahun melalui pemanfaatan palet, serta pengurangan emisi 877 ton CO2eq per tahun melalui penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

    Steering Committee ISRA 2026, Miftah Faridl Widhagdha, mengatakan tema Catalyzing Collective Change for Scalable Impact menekankan pentingnya aksi kolektif lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan solusi yang adaptif, kolaboratif, dan mudah direplikasi.

    Penghargaan Platinum ISRA 2026 diharapkan semakin memotivasi Kilang Cilacap untuk terus menghadirkan program-program tanggung jawab sosial yang inovatif, berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

  • Satu Ambulans, Ribuan Harapan: Ikhtiar BAZMA RU Cilacap Tingkatkan Layanan Sosial

    Satu Ambulans, Ribuan Harapan: Ikhtiar BAZMA RU Cilacap Tingkatkan Layanan Sosial

    satyanusa, Cilacap – Setiap perjalanan hidup akan berakhir pada satu tujuan yang sama. Di momen perpisahan itu, setiap insan berhak mendapatkan penghormatan terakhir yang layak. Berangkat dari semangat itulah, Baituzzakah Pertamina (BAZMA) RU Cilacap meluncurkan layanan ambulans jenazah baru sebagai ikhtiar peningkatan pelayanan sosial kemanusiaan bagi masyarakat.

    Peluncuran tersebut dilakukan dalam “Silaturahmi & Kolaborasi Kebaikan” BAZMA bersama Dompet Dhuafa di Gedung Patra Graha Cilacap, Rabu (29/7/2026). Kehadiran armada baru ini diharapkan mampu memberikan layanan yang lebih cepat, layak, dan profesional bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Namun, kolaborasi kebaikan hari itu tidak berhenti pada peluncuran ambulans. Dalam kesempatan itu turut disalurkan berbagai bantuan sosial dan program pemberdayaan sebagai wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat.

    Di antaranya dukungan operasional rutin bagi 135 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah senilai Rp 34,5 jutys, santunan bagi 44 warga lanjut usia sebesar 47,5 juta, bantuan enam unit gerobak usaha senilai Rp 20 juta, beasiswa pendidikan untuk 19 siswa-siswi senilai Rp 14,6 juta, layanan pengobatan gratis sebesar Rp 5,4 juta, 280 paket sembako senilai Rp 28 juta, serta 1 unit ambulans senilai Rp 311 juta. Sehingga total bantuan yang disalurkan senilai lebih dari Rp 460 juta.

    Pengurus BAZMA RU Cilacap, Kusnadi, mengatakan seluruh program yang dijalankan merupakan amanah dari para muzaki, munfiq, serta seluruh pihak yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada BAZMA.

    “Amanah ini dikelola dan disalurkan melalui berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik di bidang sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun dakwah. Kami berharap kolaborasi yang telah terjalin ini terus berkembang menjadi kerja sama yang berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat yang lebih luas,” ujar Kusnadi.

    Senada, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Hermawan Budiantoro melalui sambutan yang dibacakan Ketua BAZMA RU Cilacap, Achmad Suhairi, menyampaikan rasa syukur atas semakin meningkatnya kesadaran pekerja muslim Pertamina dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZMA.

    “Hingga saat ini lebih dari 60 persen pekerja muslim Pertamina RU Cilacap telah menyalurkan zakat, infak, dan wakaf melalui BAZMA. Alhamdulillah, kesadaran untuk berbagi terus tumbuh, dan kami berharap kepercayaan ini dapat terus kami jaga dengan menghadirkan program-program yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Peluncuran ambulans jenazah secara simbolis dilakukan oleh Ketua BAZMA RU Cilacap, Achmad Suhairi, didampingi Ketua BAZMA Pusat, Yudho Irianto, serta General Manager Pengembangan dan MPZ Dompet Dhuafa Pusat, Doddy P. Manullang.

    Rangkaian kegiatan ditutup sesi motivasi pengelolaan TPQ dan Madrasah Diniyah yang disampaikan oleh Kak Imung dari Purwokerto. Melalui materi yang inspiratif, para pengelola TPQ dan Madrasah Diniyah diajak terus meningkatkan kualitas dan kreatifitas pendidikan agama bagi generasi muda sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

    Melalui semangat Silaturahmi & Kolaborasi Kebaikan, BAZMA RU Cilacap berharap setiap zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan para pekerja Pertamina tidak hanya menjadi angka dalam laporan, tetapi benar-benar menjelma menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat.

  • Dari Gas Suar Menjadi Energi, Inovasi Pekerja Kilang Cilacap Tekan Emisi Karbon

    Dari Gas Suar Menjadi Energi, Inovasi Pekerja Kilang Cilacap Tekan Emisi Karbon

    satyanusa, Cilacap – Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Kilang Cilacap, nyala api gas suar (flare) menjadi pemandangan yang sudah akrab. Namun, di balik nyala api yang kini semakin kecil, tersimpan ikhtiar besar para pekerja Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

    Melalui berbagai inovasi operasional, RU Cilacap berhasil mengoptimalkan pemanfaatan gas suar sehingga pembakaran (flaring) dapat ditekan secara signifikan.

    Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan energi, tetapi juga menjadi bagian penting dari komitmen perusahaan dalam mendukung target dekarbonisasi nasional melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

    Manager Engineering & Development Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Andi Krishnanta Wijaya menjelaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil karya dan kolaborasi para pekerja Kilang Cilacap menghadirkan proses operasi yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan.

    “Optimalisasi pemanfaatan gas suar menjadi bukti keseriusan RU Cilacap dalam mendukung dekarbonisasi. Berbagai inovasi yang dikembangkan para pekerja mampu mengubah gas yang sebelumnya dibakar menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan kembali dalam operasional kilang,” jelas Andi, Sabtu (1/8/2026).

    Ia menerangkan, RU Cilacap memiliki lima titik gas suar, masing-masing di Kilang I, Kilang II, Kilang Paraxylene Cilacap (KPC), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), dan Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC).

    “Saat ini, gas yang sebelumnya dilepas melalui flare telah dioptimalkan pemanfaatannya sebagai fuel gas di Kilang I dan Kilang II, serta melalui off gas recovery pada eks Unit KPC dan RFCC sebagai feed Unit Lube Oil Complex (LOC) III dan Sulphur Recovery Unit (SRU),” urai Andi.

    Optimalisasi tersebut memberikan manfaat nyata dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

    Pada aspek ekonomi, pemanfaatan tail gas berhasil menurunkan konsumsi fuel gas 025F-101 rata-rata sebesar 1.698 Nm³ per jam atau sekitar 26 ton fuel gas per hari. Efisiensi tersebut setara dengan penghematan biaya bahan bakar mencapai sekitar US$10.387 setiap hari.

    “Dari aspek sosial, nyala api gas suar yang semakin kecil juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di sekitar kawasan kilang karena aktivitas flaring menjadi jauh lebih minim dibanding sebelumnya,” imbuh Andi.

    Sementara dari sisi lingkungan, hingga Juni 2026 inovasi tersebut berhasil menekan emisi sebesar 7.286 ton CO₂ ekuivalen, atau setara dengan manfaat penyerapan karbon dari lebih dari 76 ribu pohon.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan keberhasilan tersebut menunjukkan, transformasi operasional kilang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kinerja bisnis, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

    “Kami terus berupaya menjalankan operasional yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Khusus aspek sosial yang berhubungan dengan masyarakat, efisiensi operasional yang dihasilkan membuka ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk memperkuat kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL),” kata Agustiawan.

    Ditambahkan Agus, penghematan yang diperoleh dapat mendukung keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan ekonomi lokal di sekitar wilayah operasi Kilang Cilacap.

    Keberhasilan optimalisasi pemanfaatan gas suar ini menjadi salah satu bukti bahwa inovasi dari para pekerja mampu menghadirkan perubahan nyata. Dari nyala api yang semakin redup, lahir efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan komitmen untuk menghadirkan operasional kilang yang semakin hijau demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

  • Pertamina Fire Brigade RU Cilacap Bantu Proses Pemadaman Kebakaran Ruko di Jalan Tendean

    Pertamina Fire Brigade RU Cilacap Bantu Proses Pemadaman Kebakaran Ruko di Jalan Tendean

    satyanusa, Cilacap – Tim Pertamina Fire Brigade (PFB) Pertamina Patra Niaga RU Cilacap turut membantu proses pemadaman kebakaran yang melanda sebuah ruko bengkel motor di Jalan Tendean, Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Rabu malam (22/7/2026).

    Peristiwa kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 21.46 WIB, setelah seorang saksi melihat percikan api muncul dari bagian atap bangunan. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim Emergency & Insurance dari fungsi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) RU Cilacap segera mengerahkan personel Pertamina Fire Brigade (PFB) ke lokasi kejadian dengan pengawalan tim PKD Security.

    Pjs. Manager HSSE RU Cilacap, Aditya Liberty Prabowo mengatakan pihaknya bergerak cepat mengirimkan satu unit Fire Truck FT-41 beserta 7 personel dan perlengkapan pemadaman untuk mendukung upaya penanganan kebakaran.

    “Setelah menerima informasi kejadian, kami mengerahkan personel PFB beserta satu unit Fire Truck FT-41 lengkap dengan peralatan pemadaman. Setibanya di lokasi, tim langsung berkoordinasi dengan petugas pemadam kebakaran dan unsur terkait untuk membantu proses pemadaman hingga tahap cooling,” jelas Adi.

    Bersama tim pemadam kebakaran dari berbagai instansi, personel PFB berjibaku memadamkan kobaran api dan memastikan tidak ada titik api yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Tahapan cooling dinyatakan selesai sekitar pukul 00.10 WIB, menandai berakhirnya proses penanganan di lokasi.

    Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Cilacap, Gatot Arief Widodo, menyampaikan tiga unit armada dari Pos Damkar Cilacap diterjunkan, didukung bantuan dari berbagai unsur, termasuk Pertamina, guna mempercepat proses pemadaman.

    “Kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam upaya ini, termasuk tim dari Pertamina Patra Niaga RU Cilacap,” ungkapnya.

    Dari pemeriksaan awal, kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik. Tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Namun, sedikitnya 16 unit sepeda motor beserta onderdil yang berada di dalam bengkel dilaporkan hangus terbakar.

    Area Manager Communication, Relations, & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, menyampaikan keprihatinannya atas musibah yang terjadi. Menurutnya, keterlibatan Pertamina dalam penanganan kebakaran merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat sekaligus komitmen mendukung upaya tanggap darurat.

    “Semoga kejadian ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama yang disebabkan oleh instalasi listrik,” imbuh Agustiawan.

    Keterlibatan PFB RU Cilacap menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat, dan unsur penanggulangan bencana dalam memberikan respons cepat terhadap situasi darurat, sekaligus mendukung keselamatan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.