Tag: patrapala

  • Menanam Kopi di Ujung Segara Anakan: Ikhtiar Patrapala Kilang Cilacap Merawat Alam dari Dataran Rendah

    Menanam Kopi di Ujung Segara Anakan: Ikhtiar Patrapala Kilang Cilacap Merawat Alam dari Dataran Rendah

    satyanusa, Cilacap – Pagi itu, perjalanan tidak dimulai dari jalan raya. Dari Markas Kopassus Daun Lumbung, Cilacap, sebanyak 81 aktivis pecinta lingkungan bersiap menembus perairan Segara Anakan. Satu perahu RIF dan empat LCR milik Kopassus menjadi kendaraan rombongan menuju sebuah ruang hijau yang tersembunyi di antara bentang mangrove.

    Tujuannya adalah Arboretum Mangrove Konservasi Laguna Kawasan Segara Anakan Cilacap (Kolak Sekancil), Kampung Laut, Sabtu (29/8/2026).

    Perjalanan sekitar satu jam membelah perairan Segara Anakan. Di balik riak air dan rimbunnya mangrove, rombongan Badan Pembina Olahraga (Bapor) Pertamina melalui Pecinta Alam (Patrapala) Pertamina Patra Niaga RU Cilacap akhirnya tiba di arboretum yang menjadi salah satu ruang pembelajaran sekaligus laboratorium mangrove di kawasan tersebut.

    Namun, perjalanan itu bukan sekadar menyusuri perairan. Ada hal penting yang hendak ditanam dan diharapkan tumbuh jauh melampaui sebatang pohon.

    Sesampainya di Arboretum Kolak Sekancil, rombongan segera melakukan penanaman 100 bibit kopi jenis Liberica. Kegiatan ini melibatkan Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SP PPWK), Manager Risk Management, Dwi Jatmoko sekaligus Pembina Bapor Patrapala, BKSDA Cilacap, Green Earth Team, Kayuwangi Foundation, serta Kopassus.

    Bagi Patrapala, menanam pohon bukan hanya menambah jumlah vegetasi. Ada harapan agar setiap bibit menjadi bagian dari ekosistem yang lebih kuat sekaligus membuka pengetahuan baru mengenai kemungkinan budidaya tanaman kopi di kawasan pesisir.

    Koordinator Patrapala, Fahmi Purnomo, mengatakan penanaman kopi Liberica merupakan upaya pelestarian lingkungan sekaligus riset dan penelitian.

    “Kopi jenis Liberica menarik diteliti karena merupakan jenis kopi yang dapat tumbuh di dataran rendah, bahkan pada ketinggian 0 meter di atas permukaan laut,” ujar Fahmi.

    Karakter tersebut menjadi alasan mengapa Liberica dipilih untuk ditanam di Arboretum Kolak Sekancil. Kawasan yang berada di dataran rendah itu selama ini menjadi ruang konservasi sekaligus laboratorium mangrove binaan Pertamina Patra Niaga RU Cilacap.

    Di tempat ini, alam tidak hanya dijaga, tetapi juga dipelajari. Penanaman 100 bibit Liberica menjadi sebuah eksperimen kecil.

    Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan yang memadukan semangat kepedulian lingkungan, kolaborasi, dan edukasi tersebut.

    “Arboretum Kolak Sekancil tidak hanya penting sebagai kawasan konservasi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis lingkungan,” ungkapnya.

    Ditambahkan, kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi modal penting untuk memastikan upaya pelestarian lingkungan dapat berjalan secara konsisten.

    Di antara akar-akar mangrove yang mencengkeram lumpur, air payau yang terus bergerak, dan kehidupan yang bergantung pada ekosistem pesisir, 100 bibit kopi itu kini mendapatkan tempat untuk tumbuh.

    Patrapala memilih cara sederhana merawat bumi dengan cara datang, menanam, dan belajar. Sebab menjaga alam pada akhirnya bukan hanya apa yang bisa dipetik hari ini, namun tentang apa yang masih bisa tumbuh untuk generasi berikutnya.

  • Di Punggung Papandayan, Patrapala Kilang Cilacap Bagikan Bunga untuk Kartini dan Harapan untuk Bumi

    Di Punggung Papandayan, Patrapala Kilang Cilacap Bagikan Bunga untuk Kartini dan Harapan untuk Bumi

    satyanusa, Cilacap – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Papandayan saat langkah-langkah itu mulai menapaki jalur pendakian, Sabtu sore (25/4/2026). Udara dingin menyapa, namun semangat 26 anggota komunitas Perwira Pertamina Pecinta Alam (Patrapala) RU IV Cilacap justru terasa hangat, membawa misi yang tak sekadar menaklukkan ketinggian.

    Dalam rangkaian peringatan Hari Kartini 2026, Patrapala mengusung tema “Menembus Awan Menjemput Terang”. Sebuah tajuk yang juga menggambarkan perjalanan fisik sekaligus refleksi nilai perjuangan. Di ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, mereka tidak hanya menguji daya tahan, tetapi juga merawat makna.

    Di sela perjalanan, sebuah pemandangan tak biasa terjadi. Para pendaki perempuan yang melintas disapa dengan senyum, lalu diberikan setangkai bunga. Total 50 bunga dibagikan, sederhana namun sarat arti. Di tengah medan yang menantang, gestur kecil itu menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan perempuan.

    Koordinator Patrapala Cilacap, Fahmi Purnomo, menyebut aksi ini sebagai cara unik untuk mengenang kembali nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini. “Kami ingin membawa semangat Kartini ke ruang yang berbeda, ke alam terbuka, ke tempat di mana perjuangan juga terasa nyata, penuh tantangan,” ujarnya.

    Selanjutnya langkah Patrapala tidak berhenti pada simbol. Di kawasan gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung api aktif terbesar di Jawa Barat itu, mereka juga menanam 250 batang pohon Santigi (Vaccinium varingiaefolium).

    Aksi ini menjadi bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), sekaligus bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.

    Santigi dipilih bukan tanpa alasan. Akar pohon ini dikenal kuat dalam menahan struktur tanah di lereng, sehingga efektif mengurangi risiko longsor dan erosi akibat limpasan air hujan.

    “Selain itu, Santigi juga berperan dalam konservasi air, menyerap karbon, menghasilkan oksigen, serta menjadi habitat bagi satwa liar. Kehadirannya membantu menjaga mikroklimat, menciptakan ruang yang teduh, sejuk, dan seimbang secara ekosistem,” imbuh Fahmi.

    Di tengah lanskap Kabupaten Garut, Jawa Barat yang megah, langkah kecil itu menjadi bagian dari upaya besar. Bukan hanya mendaki dan mencapai puncak, tetapi tentang meninggalkan jejak yang berarti.

    Bagi Patrapala, perjalanan ini adalah pengingat bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam kata-kata, tetapi juga dalam aksi nyata menembus batas, merawat kehidupan, dan menjemput terang, bahkan dari ketinggian.