Tag: kilangcilacap

  • Produksi Avtur Kilang Cilacap Tetap Optimal Dukung Kelancaran Penerbangan Haji 1447 H

    Produksi Avtur Kilang Cilacap Tetap Optimal Dukung Kelancaran Penerbangan Haji 1447 H

    satyanusa, Cilacap — PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap memastikan produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Avtur tetap optimal guna mendukung kelancaran mobilisasi jamaah calon haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

    Manager Refinery Business & Optimization (RBO) RU IV Cilacap, Endah Purbarani, menjelaskan realisasi produksi Avtur pada Januari hingga Februari 2026 berada pada performa optimal sebelum munculnya dinamika konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

    “Pada kondisi normal sebelum konflik geopolitik, performa produksi Avtur RU IV Cilacap berada pada level optimal sesuai target perusahaan,” jelas Endah.

    Ia menambahkan, meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah mengalami eskalasi, produksi Avtur Kilang Cilacap tetap berada pada level aman dan terkendali.

    ”Selama musim penerbangan haji, produksi Avtur RU IV Cilacap tetap dapat memenuhi demand yang relatif meningkat yakni mencapai produksi 1,1 juta barrel. Jumlah tersebut setara sekitar 14 persen dari total produksi Avtur terhadap minyak mentah yang diolah di Kilang Cilacap,” ujarnya.

    Produksi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi penerbangan, khususnya untuk mendukung operasional penerbangan jamaah calon haji dari berbagai embarkasi di Indonesia.

    Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan, menegaskan Kilang Cilacap berkomitmen menjaga keamanan operasional dan keandalan produksi dalam berbagai kondisi, termasuk menyikapi tantangan konflik geopolitik global.

    “Kilang Cilacap memastikan produksi dan operasional tetap berjalan aman dalam kondisi apa pun, termasuk di tengah dinamika konflik geopolitik. Berbagai langkah mitigasi dan upaya strategis terus dilakukan agar suplai energi tetap tersalurkan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Agustiawan.

    Menurutnya, komitmen tersebut menjadi bagian dari peran strategis Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung kelancaran pelayanan ibadah haji masyarakat Indonesia.

  • Kuliah Umum di UGM, Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Beberkan Evolusi TJSL & Resolusi Konflik

    Kuliah Umum di UGM, Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Beberkan Evolusi TJSL & Resolusi Konflik

    satyanusa, Yogyakarta – Fungsi Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap disebut memiliki peran strategis mendukung keberlangsungan operasional perusahaan sekaligus menciptakan dampak sosial berkelanjutan bagi masyarakat.

    Hal tersebut disampaikan Officer CSR & SMEPP RU IV Cilacap, Lifania Riski Nugrahani saat menjadi dosen tamu pada kuliah umum Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta di auditorium kampus setempat, Selasa (12/5/2026).

    Lifania menjelaskan konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan terus berkembang melalui empat tahapan utama.

    Dimulai dari pendekatan charity berupa bantuan sosial satu kali, berkembang menjadi community development yang fokus pada pemberdayaan masyarakat. Dilanjutkan dengan sustainability yang memastikan keberlanjutan program pascaintervensi, hingga konsep ESG dan shared value yang menciptakan nilai manfaat bagi masyarakat dan perusahaan.

    “Program TJSL saat ini tidak lagi sekadar bantuan sesaat, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang mampu memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan,” ujar Lifania.

    Dicontohkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Program tersebut kini telah mandiri dan dikelola langsung oleh masyarakat setelah intervensi perusahaan selesai dilaksanakan.

    Ia juga menjelaskan fungsi Communication, Relations & CSR memiliki peran penting menjaga kondusivitas operasional perusahaan. Divisi ini berperan menghadapi berbagai risiko operasional hingga potensi gangguan sosial.

    Menurutnya, terdapat tiga fungsi utama, yakni pengelolaan hubungan publik (public relation) untuk meredam isu yang berkembang, pengelolaan hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholder management), serta implementasi program TJSL.

    Terkait penyelesaian konflik sosial, Lifa menyebut mekanisme yang diterapkan meliputi pencegahan dini, identifikasi aktor, dialog multipihak, mediasi netral, hingga pencapaian solusi yang saling menguntungkan bagi seluruh pihak.

    Dalam sesi kuliah umum, peserta juga diajak membahas studi kasus praktik CSR RU IV Cilacap melalui program MAMAKU SIGAP di Kelurahan Kutawaru, Cilacap.

    Program tersebut hadir sebagai solusi sejumlah persoalan sosial dan lingkungan seperti penumpukan sampah laut, rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di bawah UMK Cilacap, hingga keterbatasan akses pendidikan.

    Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan menilai forum akademik seperti ini penting sebagai sarana penyebarluasan informasi profil dan kontribusi perusahaan dalam membantu penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan.

    “Forum ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai praktik pengelolaan konflik dan implementasi CSR di perusahaan energi seperti Pertamina,” ujar Agustiawan.

    Kuliah umum berlangsung akrab dan interaktif dengan diikuti mahasiswa program sarjana Mata Kuliah Konflik di Kawasan Industri dan Pemberdayaan Masyarakat serta mahasiswa magister Mata Kuliah Manajemen CSR dan Resolusi Konflik

  • Usai Raih Penghargaan Nasional, Relpi RU IV Cilacap Tancap Gas Program Kemanusiaan

    Usai Raih Penghargaan Nasional, Relpi RU IV Cilacap Tancap Gas Program Kemanusiaan

    satyanusa, Cilacap – Konsistensi Relawan Pertamina Peduli (Relpi) RU IV Cilacap dalam menghadirkan berbagai program kebaikan terus menguatkan kiprah perusahaan di tengah masyarakat.

    Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan evaluasi program 2025 dan pemantapan rencana kerja 2026 yang dikemas dalam tajuk Re Energizing Relpi 2026 di Gedung Patra Nirwana Cilacap, Minggu (10/5/2026).

    Ketua Relpi Cilacap, Anton Wibowo menjelaskan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat program kerja yang telah berjalan sekaligus memastikan rencana kegiatan ke depan benar-benar terlaksana dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Hal ini penting agar program yang sudah dirancang tidak sekadar menjadi daftar kegiatan yang terencana namun tidak terlaksana. Kami ingin seluruh program Relpi benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya,” ujar Anton.

    Anton menerangkan Relpi RU IV Cilacap selama ini berfokus pada empat pilar utama, yakni sosial, pendidikan, lingkungan, dan darurat kebencanaan. Keempat pilar tersebut menjadi landasan berbagai program yang secara konsisten dijalankan para relawan.

    Salah satu program unggulan yang terus dipertahankan adalah donasi Sehari Seribu (Serbu) yang rutin diselenggarakan sebagai gerakan gotong royong pekerja untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

    Selain itu, Relpi juga aktif melalui program Amaliyah Ramadan, Semarak Kemerdekaan bersama anak-anak tangguh, Taham Energi Barokah (Tebar), hingga berbagai program kolaborasi dan penguatan kesekretariatan organisasi.

    Menurut Anton, konsistensi Relpi yang mengusung spirit ‘Berbagi Tiada Henti’ itu turut berbuah apresiasi membanggakan melalui penghargaan Pertamina Sustainability Champions kategori Champion of Social Engagement dari Pertamina (Persero) yang diterima pada pertengahan April 2026 lalu.

    “Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi yang dibangun Relpi bersama berbagai unsur, baik internal perusahaan, organisasi maupun pihak eksternal lainnya mampu menghadirkan dampak positif dan kebermanfaatan yang luas,” tambahnya.

    Sementara itu, Pembina Relpi Cilacap, M. Hasan Ismail mengapresiasi kiprah Relpi yang dinilai mampu menjaga konsistensi aksi sosial dan kemanusiaan secara nyata. Menurutnya, keberadaan Relpi menjadi salah satu representasi kepedulian perusahaan kepada masyarakat.

    “Relpi terbukti tidak berhenti di wacana, tetapi terus bergerak melalui berbagai aksi nyata. Ini menjadi hal yang sangat positif karena relawan hadir sebagai perpanjangan tangan perusahaan untuk mendukung program-program yang berhubungan langsung dengan masyarakat,” ujar Hasan.

    Hasan yang juga Manager Human Capital (HC) RU IV Cilacap berharap semangat berbagi dan konsistensi para relawan dapat terus terjaga sehingga keberadaan Relpi semakin memberi manfaat luas sekaligus memperkuat hubungan harmonis perusahaan dengan masyarakat sekitar.

    Dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan penghargaan Pertamina Sustainability Champions kategori Champion of Social Engagement dari Anton Wibowo kepada M. Hasan Ismail, serta seremonial penyambutan anggota baru Relpi Cilacap.

  • Kenali Zona Kilang, Nelayan Melaut dengan Tenang: Sinergi Pertamina dan Nelayan Cilacap Jaga Laut Bersama

    Kenali Zona Kilang, Nelayan Melaut dengan Tenang: Sinergi Pertamina dan Nelayan Cilacap Jaga Laut Bersama

    satyanusa, Cilacap – Hangatnya kebersamaan terasa dalam sosialisasi area terlarang dan tertentu yang diselenggarakan Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap bersama para nelayan Cilacap dari unsur Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan KUD Mino Saroyo. Mengusung tema “Kenali Zona Kilang, Nelayan Melaut dengan Tenang”, kegiatan ini digelar di Purwokerto pada Jumat – Sabtu (8–9/5/2026).

    Lebih dari sekadar forum sosialisasi, kegiatan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan kepentingan keselamatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Pertamina dan nelayan duduk bersama, berbagi perspektif, sekaligus memperkuat rasa saling memiliki terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan bersama.

    Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan, menyampaikan kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para nelayan terkait area-area terlarang dan tertentu di perairan Cilacap. Hal ini penting agar aktivitas pelayaran nelayan tetap aman, sekaligus mendukung kelancaran distribusi energi nasional.

    “Ini bukan tentang membatasi ruang gerak nelayan, melainkan langkah preventif demi keselamatan bersama. Laut adalah ruang hidup bersama, tempat mencari nafkah, sekaligus ruang yang harus dijaga keamanannya secara kolektif,” ujar Agustiawan.

    Menurutnya, sinergi antara Pertamina dan para nelayan menjadi kunci dalam menciptakan harmoni di wilayah perairan. Dengan saling memahami batasan dan peran masing-masing, potensi risiko dapat diminimalisir tanpa mengurangi produktivitas nelayan dalam melaut.

    Senada dengan hal tersebut, Ketua HNSI Cilacap, Sarjono menegaskan laut merupakan aset bersama yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Ia mengibaratkan laut seperti sebuah akuarium besar, tempat berbagai pihak hidup berdampingan.

    “Kalau diibaratkan akuarium, maka kita semua –nelayan, Pertamina, dan pihak lainnya, hidup dalam satu ruang yang sama. Agar tetap seimbang, kita harus saling menjaga, saling memahami, dan terus bersinergi,” ungkapnya.

    Sesi sosialisasi menghadirkan berbagai narasumber dari instansi terkait, di antaranya Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Cilacap, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Satpolair Polresta Cilacap, serta tim HSSE RU IV Cilacap. Para peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mulai dari aspek keselamatan pelayaran, regulasi wilayah perairan, hingga mitigasi risiko di sekitar area operasional kilang.

    Tak hanya itu, suasana semakin inspiratif melalui sesi berbagi pengalaman bersama Local Hero Kampoeng Kepiting Kutawaru binaan RU IV Cilacap, Rato. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kolaborasi yang baik antara masyarakat dan perusahaan mampu melahirkan manfaat nyata dan berkelanjutan.

    Melalui kegiatan ini, Pertamina berharap tercipta kesadaran kolektif bahwa keselamatan di laut bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil dari kerja sama yang erat. Dengan memahami zona kilang dan menjaga komunikasi yang baik, nelayan dapat melaut dengan lebih tenang, sementara operasional energi tetap berjalan dengan aman dan andal.

  • Presiden Prabowo Lakukan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II Senilai Rp116 Triliun

    Presiden Prabowo Lakukan Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II Senilai Rp116 Triliun

    satyanusa, Cilacap -Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (29/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam mempercepat transformasi industri nasional melalui penguatan hilirisasi di sektor strategis.

    Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bentuk harapan atas kelancaran dan keberhasilan proyek. Setelahnya, acara dilanjutkan dengan penayangan video mengenai rencana dan cakupan proyek hilirisasi tahap II yang akan dikembangkan.

    Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Kepala Negara menekankan hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa Indonesia.

    “Groundbreaking hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi, senilai kurang lebih Rp116 triliun meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” ujar Kepala Negara.

    Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani dalam laporannya menyampaikan bahwa proyek hilirisasi tahap II merupakan kelanjutan dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Rosan menjelaskan bahwa pengolahan aset negara menjadi katalisator transformasi ekonomi nasional sebagai investasi negara untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.

    “Kami akan melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar Indonesia sebagai bangsa yang tidak hanya kaya sebagai sumber daya alam, tetapi juga berdaulat dalam pengolahannya, unggul dalam produksinya, dan sejahtera dalam hasilnya,” ujar Rosan.

    Adapun 13 proyek hilirisasi tahap II ini terdiri dari berbagai pengembangan di sektor pengolahan dan pemurnian yang terintegrasi, mencakup peningkatan kapasitas refinery, pengembangan produk turunan bernilai tambah, serta pembangunan fasilitas pendukung yang memperkuat rantai pasok industri nasional, sebagai berikut:

    1. Proyek 1 dan 2: Pembangunan Fasilitas Kilang Gasoline di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah);
    2. Proyek 3, 4, 5: Pembangunan Tangki Operasional BBM di Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), dan Maumere (Nusa Tenggara Timur);
    3. Proyek 6: Fasilitas Pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim (Sumatera Selatan);
    4. Proyek 7: Pengembangan Fasilitas Manufaktur Baja Nirkarat dari Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah);
    5. Proyek 8: Pengembangan Fasilitas Produksi Slab Baja Karbon dari Bijih Besi Lokal di Cilegon (Banten);
    6. Proyek 9: Ekosistem dan Fasilitas Produksi Aspal Buton di Karawang (Jawa Barat);
    7. Proyek 10: Hilirisasi Tembaga dan Emas di Gresik (Jawa Timur);
    8. Proyek 11: Pengolahan Sawit menjadi Oleofood dan Biodiesel di Sei Mangkei (Sumatera Utara);
    9. Proyek 12: Fasilitas Pengolahan Pala menjadi Oleoresin di Maluku Tengah (Maluku);
    10. Proyek 13: Fasilitas Terpadu Kelapa terintegrasi menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon di Maluku Tengah (Maluku).

    Dengan investasi besar dan cakupan lintas sektor, hilirisasi tahap II ini menjadi pijakan strategis menuju Indonesia yang lebih mandiri, berdaulat, dan berdaya saing global. (BPMI Setpres)

  • TMMD Buntu Dimulai, Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Perkuat Layanan & Infrastruktur Desa

    TMMD Buntu Dimulai, Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Perkuat Layanan & Infrastruktur Desa

    satyanusa, Cilacap – Komitmen dukungan pembangunan berbasis kolaborasi diwujudkan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap melalui partisipasi program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II 2026 di Desa Buntu, Kecamatan Kroya, Cilacap.

    Program ini resmi dibuka di lapangan desa setempat pada Rabu (22/4/2026) dan berlangsung selama satu bulan hingga 21 Mei 2026.

    Dalam kegiatan tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan menyerahkan bantuan satu unit personal computer (PC) kepada Pemerintah Desa Buntu. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik di tingkat desa.

    Agustiawan menyampaikan kontribusi Pertamina dalam TMMD menjadi komitmen perusahaan untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan masyarakat. “Kami senantiasa hadir dan berkontribusi dalam setiap TMMD sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, sekaligus upaya bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

    General Manager RU IV Cilacap, Wahyu Sulistyo Wibowo, memastikan dukungan penuh Pertamina terhadap program-program sosial yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

    “Keterlibatan perusahaan dalam TMMD menjadji bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus wujud nyata kehadiran Pertamina di tengah masyarakat. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk tidak hanya menjalankan operasional bisnis, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sosial dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, Annisa Fabriana, yang membacakan sambutan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Ia menyebutkan kondisi jalan yang menjadi sasaran pembangunan saat ini membutuhkan perhatian serius karena belum berfungsi optimal.

    “Pembangunan talud menjadi langkah awal agar jalan dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami juga menekankan pentingnya koordinasi seluruh program dalam TMMD, baik yang bersumber dari CSR perusahaan maupun organisasi perangkat daerah, agar pelaksanaannya lebih terarah dan terpadu,” ungkapnya.

    Adapun TMMD Sengkuyung Tahap II Tahun 2026 di Desa Buntu menitikberatkan pada pembangunan fisik dan nonfisik. Untuk kegiatan fisik, meliputi pembangunan talud di sisi kanan dan kiri jalan sepanjang 955 meter dengan tinggi 1 meter dan lebar 0,3 meter, perkerasan jalan sepanjang 50 meter dengan lebar 3 meter dan tinggi 0,15 meter, serta pembangunan tiga unit gorong-gorong jenis box culvert.

    Selain itu rehabilitasi tiga unit rumah tidak layak huni (RTLH), penanaman 1.000 pohon, pembersihan saluran Sungai Situmang sepanjang 140 meter, serta pembuatan satu unit sumur bor.

    Sementara kegiatan nonfisik, masyarakat mendapatkan berbagai layanan seperti administrasi kependudukan (pembuatan akta kelahiran, KIA, hingga layanan paket “3 in 1” termasuk akta kematian), pemeriksaan kesehatan gratis untuk semua kelompok usia, pelayanan keluarga berencana (KB), perpustakaan keliling, hingga layanan kesehatan hewan ternak dan peliharaan.

    Melalui sinergi lintas sektor dalam program TMMD ini, diharapkan pembangunan tidak hanya memperkuat infrastruktur desa, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.