satyanusa, Cilacap — Dari kandang puyuh dan pasar, harapan kemandirian energi tumbuh di Kelurahan Kutawaru, Cilacap. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap aktif mendorong masyarakat untuk melihat potensi sekitar, termasuk mengubah limbah yang selama ini dipandang sebagai persoalan menjadi sumber daya yang bernilai.
Semangat ini diwujudkan melalui pelatihan pengelolaan biogas yang menjadi bagian dari program Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU), Jumat (14/8/2026). Sebanyak 14 warga dari kelompok Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) mengikuti pelatihan mengolah limbah organik menjadi sumber energi alternatif, biogas.
Pelatihan menghadirkan instruktur dari Politeknik Negeri Cilacap (PNC), Rosita Dwityaningsih, dosen sekaligus Koordinator Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengumpulan dan pemanfaatan limbah kotoran ternak puyuh serta sampah organik dari pasar sebagai bahan baku biogas.
Tidak berhenti pada teori, peserta juga diperkenalkan dengan teknik pengoperasian dan pengelolaan mesin biogas agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Bagi warga Kutawaru, pengetahuan ini bukan hanya sebagai keterampilan baru namun juga menjadi langkah membangun kemampuan Masyarakat, menyelesaikan persoalan dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sendiri.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan program tersebut menjadi bukti konsistensi mengembangkan potensi masyarakat Kutawaru secara berkelanjutan.
“Di antaranya melalui budidaya ternak puyuh oleh kelompok P4S serta pengembangan Pasar Amarta. Aktivitas ini menghasilkan limbah organik yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan,” jelasnya.
Menurut Agus, kondisi geografis Kutawaru turut menjadi tantangan bagi Masyarakat, mengingat Lokasi kelurahan terpisah dari pusat pemerintahan Kota Cilacap oleh perairan Bengawan Donan. Kondisi ini membuat warga menghadapi keterbatasan akses terhadap sejumlah kebutuhan dasar, termasuk pengelolaan dan pembuangan limbah, khususnya organik.
“Maka, dibutuhkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga bisa bekal bagi masyarakat menghadapi tantangan di masa depan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas menjadi salah satu ikhtiar mengurangi timbulan sampah sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang dapat dikelola masyarakat,” imbuh Agus.
Pelatihan biogas ini menjadi dukungan komitmen Kilang Cilacap dalam mendorong terwujudnya Desa Energi Berdikari (DEB). Hal ini juga selaras dengan program Cegah Boros Energi dengan Edukasi Masyarakat (CERDAS), sebuah inisiatif RU Cilacap dalam rangkaian Bulan Energi & Loss 2026, melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat.
Melalui capacity building, Pertamina berharap masyarakat Kutawaru semakin percaya diri dalam mengelola potensi lokal. Limbah dari kandang puyuh maupun aktivitas pasar yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan, perlahan dapat dipandang sebagai bahan baku yang memiliki nilai guna.
Program tersebut juga turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 2 (Tanpa Kelaparan), SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs 7 (Energi Bersih & Terjangkau), SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDGs 15 (Ekosistem Daratan).
